WELCOME TO MY BLOG

Jumat, 18 April 2014

Makalah Perkembangan Emosi



 

BAB I
 PENDAHULUAN


A.     LATAR BELAKANG MASALAH

Manusia adalah makhluk yang misteri, demikianlah yang diungkapkan oleh Alexis Carel ketika menggambarkan ketidak tuntasan pencarian hakikat manusia oleh para ahli. Banyak ikhtiar akademis yang dilakukan oleh para ahli saat ingin memapar siapa sesungguhnya dirinya. Ilmu-ilmu seperti filsafat, ekonomi, sosiologi, antropologi juga psikologi dan beberapa ilmu lainnya adalah ilmu yang membahas tentang manusia dengan perspektif masing-masing.
Emosi  adalah taraf  kesanggupan seseorang untuk mengalami perasaan-perasaan tertentu, luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat, keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan,  keberanian yg bersifat subjektif).
Manusia mempunyai keperluan asas yang sama dan perkembangan mereka bergantung kepada tindak balas terhadap keperluan tersebut. Pertumbuhan manusia berjalan sesuai prinsip epigenetik yang menyatakan bahwa kepribadian manusia berjalan menurut delapan tahap. Berkembangnya manusia dari satu tahap ke tahap berikutnya ditentukan oleh keberhasilannya atau ketidak berhasilannya dalam menempuh tahap sebelumnya.

B.     RUMUSAN MASALAH

Berikut adalah beberapa rumusan masalah yang telah kami buat :
1.      Apa pengertian dari emosi?
2.      Bagaimana perkembangan emosi itu sendiri?
3.      Seperti apa karakteristik perkembangan emosi itu?

C.     TUJUAN PENULISAN

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui pengertian dari emosi.
2.      Mengetahui perkembangan emosi.
3.      Mengetahui karakteristik perkembangan emosi.

BAB II
 PEMBAHASAN


A.     PENGERTIAN EMOSI

Rasa dan perasaan adalah salah satu potensi yang khusus dimiliki oleh manusia. Perbuatan atau perilaku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan senang dan tidak senang. Perasaan senang dan tidak senang yang selalu menyertai peerbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif ini kadang-kadang kuat kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas (samar).
Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda. Tetapi perbedaan antara keduanya tidak dapat dinyatakan dengan tegas. Emosi dan perasaan merupakan suatu gejala emosional yang secara kualitatif berkelanjutan, akan tetapi tidak jelas batasannya. Pada suatu saat suatu warna afektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi.
Perasaan menunjukan suasana batin yang lebih tenang dan tertutup karena tidak banyak melibatkan aspek fisik, sedangkan emosi menggambarkan suasana dinamis dan terbuka karena melibatkan ekspresi fisik.
Perasaan timbul karena adanya rangsangan dari luar, bersifat subyektif dan temporer. Ada juga perasaan ysng bersifat menetap menjadi suatu kebiasaan dan membentuk adat istiadat. Emosi merupakan gejala perasaan yang disertai dengan perubahan atau perilaku fisik. Seperti marah yang ditunjukan dengan teriakan suara keras, atau tingkah laku yang lain. Begitu pila sebaliknya seorang yang gembira akan melonjak-lonjak sambil tertawa lebar, dan sebagainya.
Berikut adalah beberapa definisi emosi menurut beberapa ahli:
1.      Crow & Crow (1958).
“ An emotion, is affective experience that accimpanies generalized inner adjusment and mental and physiological stirred-up states in the individual, and that shows it self in his overt behavior.”
Emosi adalah penglaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tenteng keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak.
Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Pada saat terjadi emosi sering kali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain berupa:
1.      Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona.
2.      Peredaran darah: bertambah cepat bila marah.
3.      Denyut jantung: bertambsh cepat bila terkejut.
4.      Pernapasan: bernapas panjang kalau kecewa.
5.      Pupil mata: membesar bila marah.
6.      Liur: mengering kalau takut atau tegang.
7.      Bulu roma: berdiri kalau takut.
8.      Pencernaan: mencret-mencret kalau tegang.
9.      Otot: ketegangan dan ketakutan menyebabakan otot menegang atau bergetar.
10.  Komposisi darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif.

B.     PERKEMBANGAN EMOSI

Kehidupan seseorang pada umumnya penuh dorongan dan minat untuk mencapai atau memiliki sesuatu. Seberapa banyak minat dan dorongan-dorongan dan minat-minat seseorang itu terpenuhi merupakan dasar dari pengalaman emosionalnya. Perjalanan kehidupan tiap-tiap orang tidak selalu sama. Kehidupan mereka masing-masing berjalan menurut polanya sendiri-sendiri.
Seseorang yang pola kehidupanya berlangsung mulus, di mana dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan atau minatnya dapat terpenuhi atau dapat berhasil dicapai, ia cenderung memiliki perkembangan emosi yang stabil dan dengan demikian dapat menikmati hidupnya. Tetapi sebaliknya jika dorongan dan keinginannya tidak berhasil terpenuhi, baik itu disebabkan kurangnya kemampuan untuk memenuhinya atau karena kondisi lingkungan yang kurang menunjang, sangat dimungkinkan perkembangan emosionalnya mengalami gangguan.
Emosi merupakan perpaduan dari beberapa perasaan yang mempunyai intensitas relatif tinggi dan menimbulkan suatu gejolak suasana batin. Seperti halnya perasaan, emosi juga membentuk suatu kontinum atau garis yang bergerak dari emosi positif sampai negatif.
Ada empat ciri emosi:
1.      Pengalaman emosional bersifat pribadi/subjektif, ada perbedaan pengalaman antara individu yang satu dengan lainnya.
2.      Ada perubahan secara fisik (kalau marah jantung berdetak lebih cepat).
3.      Diekspresikan dalam perilaku seperti takut, marah, sedih, dan bahagia.
4.      Sebagai motif, yaitu tenaga yang mendorong seseorang melakukan kegiatan, misalnya orang yang sedang marah mempunyai tenaga dan dorongan untuk memukul atau merusak barang.
Meskipun pola perkembangan emosi dapat diramalkan, tetapi terdapat perbedaan dalam  frekuensi, intensitas, serta jangka waktu dari berbagai macam emosi dan juga saat pemunculannya. Perbedaan ini sudah mulai terlihat sebelum masa bayi berakhir dan semakin bertambah frekuensinya serta lebih mencolok sehubungan dengan bertambahnya usia anak-anak.
Perbedaan itu sebagian disebabkan keadaan fisik anak pada saat itu dan taraf kemampuan intelektualnya, dan sebagian lagi disebabkan oleh kondisi lingkungan. Anak yang sehat cenderung kurang emosional dibandingkan dengan anak yang kurang sehat.
Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 1960: 266). Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti , memperhatikan satu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama, dan menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Demikian pula kemampuan mengingat mempengaruhi reaksi emosional.
Perkembangan kelenjar endokrtin penting untuk mematangkan perilaku emosionalmya. Kelenjar adrenalin yang memainkan peran utama pada emosi mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir. Tidak lama kemudiankelenjar itu mulai membesar lagi, dan membesar dengan pesat sampai anak berusia 5 tahun. Pembesarannya melambat pada usia 5 sampai 11 tahun. Dan membesar lebih pesat lagi sampai anak berusia 16 tahun. Pada usia 16 tahun lelenjar tersebut mencapai kembali ukuran semula seperti anak saat lahir.
Kegiatan belajar juga mampengaruhi perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain:
1)      Belajar dengan mencoba-coba.
Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya, dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal dibandingkan dengan sesudahnya.
2)      Belajar dengan cara meniru.
Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati.
3)      Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification).
Anak menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi yang telah ditiru. Disini anak hanya menirukan orang yang dilkagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya.
4)      Belajar melalui pengkondisian.
Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Pengkondisian terjadi dengan mudan dan cepat pada tahun awal kehidupan. Setelah melewati masa kanak-kanak, pengunaan metode pengkondisisan semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.
5)      Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi.
Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi terangsang. Dengan pelatihan anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yaang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan.
Mendekati berakhirnya usia remaja, seorang anak telah melewati banyak badai emosional, ia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang yang mewarnai pasang surut kehidupannya. Ia juga telah belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Hali ini berarti jika ingin memahami remaja, kita tidak hanya mengamati emosi-emosi yang secara terbuka yang ia tampakkan tetapi perlu berusaha mengertu emosi yang disembunyikan.

C.     KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN EMOSI

Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa di mana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak (laki-laki atau perempuan) berada di bawah tekanan sosial dan mereka menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Tidak demua remaja mengalami masa badai dan tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi usaha penyesuaian diri terhadap pola prilaku baru dan harapan sosial baru.
Pola emosi masa remaja adlah sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah: cinta/kasih sayang, gembira, marah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Remaja sendiri menyadari bahwa aspek-aspek emosional dalam kehidupan adalah penting (Jersild, 1957: 133). Berikut adalah pembahasan beberapa kondisi emosional yang dialami oleh remaja:

1.       Cinta/ Kasih Sayang
Faktor penting dalam kehidupan masa kanak-kanak dan  remaja adalah kapasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemempuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya.
Walaupun anak dan remaja banyak bergerak ke dunia pergaulan yang lebih luas, dalam dirinya masih terdapat sifat kanak-kanaknya. Remaja membutuhkan kasih sayang di rumah yang sama banyaknya dengan apa yang mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan inilah maka sikap menentang mereka, menyalahkan mereka secara langsung, mengolok-olok mereka karena mencukur kumisnya pada wktu pertama kali, adanya perhatian terhadap lawan jenisnya merupakan tindakan yang kurang bijaksana.
Tampaknya tidak ada manusia, termasuk remaja, yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapatkan cinta dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap permusuhan besar kemungkinannya disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari.

2.       Gembira
Pada umumnya individu dapat mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang menyenangkan yang dialami selama remaja. Jika kita menghitung hal-hal yang  yang menyanangkan tersebut kita agaknya mempunyai cerita yang panjang dan lengkap tentang apa yang terjadi dalam perkembangan emosional remaja.
Perasaan gembira dari anak-anak dan remaja belum banyak diteliti. Perasaan gembira sedikit mendapat perhatian dari petugas peneliti dari pada perasaan marah dan takut atau tingkah laku problema lain yang memantulkan kesedihan. Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya itu mendapat sambutan (diterima) oleh yang dicintai.

3.       Kemarahan dan Permusuhan
Sejak masa kanak-kanak, rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan sebagai seorang pribadi yang mandiri. Rasa marah merupakan gejala yang penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang mmenonjol dalam perkembangan kepribadian.
Kondisi-kondisi dasar yang menyebabkan timbulnya rasa marah kurang lebih sama, tetapi ada beberapa perbedaan sehubungan dengan pertambahan umurnya dan kondisi-kondisi tertentu yang menimbulkan rasa marah atau meningkatnya penguasaan kendali emosional. Banyaknya hambatan yang menyebabkan anak kehilangan kendali terhadap rasa marah, sedikit berpengaruh pada kehidupan emosional remaja. Rasa marah tersebut akan terus berlanjut permunculannya apabila minat-minatnya, rencana-rencanaya, dan tindakan-tindakanya dirintangi.
Dalam upaya memahami anak dan remaja, ada 4 faktor yang sangat penting sehubungan dengan rasa marah, diantaranya:
1)      Adanya kenyataan bahwa perasaan marah berhubungan dengan usaha manusia untuk memiliki dirinya dan menjadi diri sendiri.
2)      Ketika individu mencapai masa remaja, dia tidak hanya merupakan subjek kemarahan yang berkembang dan kemudian menjadi surut, tetapi juga mempunyai sikap-sikap kemarahan yang tersisa dalam bentuk permusuhan yang terjadi di masa lalu. Sikap-sikap permusuhan mungkin berbentuk dendam, kesedihan, prasangka, atau kecendrungan untuk merasa tersiksa.
3)      Seringkali perasaan marah sengaja disembunyikan dan seringkali tampak dalam bentuk yang samar-samar.
4)      Kemarahan mungkin berbalik pada dirinya sendiri. Dalam beberapa hal, aspek ini merupakan aspek yang sangat penting dan juga paling sulit dipahami.

4.       Ketakutan dan Kecemasan
Menjelang anak usia remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa ketakutannya. Beberapa rasa takut yang terdahulu telah teratasi, tetapi banyak yang masih tetap ada. Banyak ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan-kecemasan dan rasa berani yang bersamaan dengan perkembangan remaja itu sendiri.
Semua remaja sedikit banyak takut terhadap waktu. Beberapa di antara mereka merasa takut hanya  pada kejadian-kejadian bila mereka dalam bahaya. Beberapa orang mengalami rasa takut secara berulang-ulang dengan kejadian dalam kehidupan sehari-hari, atau mimpi-mimpi, atau karena pikiran mereka sendiri. Bebrapa orang dapat menglami rasa takut sampai berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.
Remaja seperti halnya anak-anak dan orang dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi ketakutan-ketakutan yang timbul dari persoalan-persoalan kehidupan. Tidak ada seorang pun yang menerjunkan dirinya dalam kehidupan dapat hidup tnapa rasa takut. Satu-satunya cara untuk menghindarkan diri dari rasa takut adalah menyerah pada rasa takut, seperti terjadi bila seseorang begitu takut sehingga ia tidak berani mencapai apa yang ada sekaran atau masa depan yang tak menentu.
Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
Ciri-ciri emosional remaja berusia 12-15 tahun:
1)      Pada usia ini anak cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka. Hal ini akibat dari perubahan perubahan biologis dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan sebagian karena kebingungan dalam menghadapi apakah ia masih sebagai anak-anak atau sebagai orang dewasa.
2)      Anak mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.
3)      Ledakan-ledakan kemarahan mungkin bisa terjadi. Hal ini akibat dari kombinasi ketegangan psikologis, ketidak stabilan biologis, kelelahan karena bekerja terlalu keras atau pola makan yang tidak tepat atau tidur yang tidak cukup.
4)      Seorang remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri yang disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri.
Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun:
1)      Pemberontakan remaja merupakan pernyataan-pernyataan atau ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak ke dewasa.
2)      Karena bertambahnya kebebasan mereka, banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tua mereka. Mereka mungkin mengharapkan simpati dan nasihat orang tua atau guru.
3)      Siswa pada usia ini seringkali melamun, memikirkan masa depan meraka.        

BAB III
PENUTUP

A.     KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan emosi adalah penglaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Pada saat terjadi emosi sering kali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain berupa:
1.      Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona.
2.      Peredaran darah: bertambah cepat bila marah.
3.      Denyut jantung: bertambsh cepat bila terkejut.
4.      Pernapasan: bernapas panjang kalau kecewa.
5.      Pupil mata: membesar bila marah.
6.      Liur: mengering kalau takut atau tegang.
7.      Bulu roma: berdiri kalau takut.
8.      Pencernaan: mencret-mencret kalau tegang.
9.      Otot: ketegangan dan ketakutan menyebabakan otot menegang atau bergetar.
10.  Komposisi darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif.
Ada beberapa metode belajar yang dapat mempengaruhi perkembangan emosi antara lain:
1.      Belajar dengan coba-coba.
2.      Belajar dengan cara meniru.
3.      Belajar dengan cara mempersamakan diri.
4.      Belajar melalui pengkondisian.
5.      Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan atau pengawasan, terbatas pada aspek reaksi.
Selain itu ada beberapa kondisi emosional yang dialami oleh remaja, diantaranya adalah:
1.      Cinta/kasih sayang.
2.      Gembira.
3.      Kemarahan dan permusuhan.
4.      Ketakutan dan kecemasan.

DAFTAR PUSTAKA


Sunarto, Hartono Agung B. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta
Tim LAPIS. Perkembangan Peserta Didik





Tidak ada komentar:

Posting Komentar